Laman

Jumat, 11 Februari 2011

Penelitian Pertumbuhan dan Perkembangan Cabai

BAB I
PENDAHULUAN

Pertumbuhan adalah sebuah cara manusia untuk beradaptasi terhadap lingkungan, seperti pertambahan tinggi, berat badan, dan lain sebagainya. Sedangkan perkembangan merupakan kelanjutan dari pertumbuhan. Sebagai contoh, dalam laporan ini kami mengambil sampel berupa cabe merah. Dalam hal ini kami ingin melihat pertumbuhan dan perkembangan tanaman lombok dengan menggunakan bantuan berupa hormon. Di mana hormon ini berfungsi untuk merangsang agar tanaman Lombok tersebut dapat bertambah tingginya. Dan di dalam laporan inilah kami mempersembahkan hasil analisa kami mengenai pertumbuhan dan perkembangan tanaman lombok dengan bantuan hormon dengan konsentrasi yang berbeda tentunya.











BAB II
PERTANIAN
TANAMAN LOMBOK

A.      Deskripsi Alternatif :

Cabai atau lombok merupakan tanaman sayuran buah semusim, yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai sayuran rempah atau bumbu dapur. Konsumsi cabai pada tahun 1978 rata-rata nasional 1,04 kg per kapita per tahun atau ± 2,84 gram per kapita per hari tidak termasuk kebutuhan untuk industri, penggemar cabai terus melonjak dari tahun ke tahun (Sunaryo, 1992). Produktifitas tanaman cabe besar varietas lokal berkisar antara 0,1-0,3 kg/tanaman, sedangkan cabe besar hot beauty produksinya mencapai 1,6-2 kg/tanaman atau 85-94% lebih besar dibandingkan dengan cabe besar biasa (Anonymous, 1992). Daerah penanaman cabai di Indonesia tersebar di Pulau Jawa, seperti Jawa Timur (Gresik, Lamongan, Tuban, dan Malang), Jawa Tengah (Brebes, Semarang, Magelang, Rembang, dan DI Yogyakarta), dan Jawa Barat (Cianjur, Bandung, Serang, Bekasi, dan Bogor). Dikawasan diluar pulau Jawa, seperti, Sumatra, Kalimantan dan Wilayah Indonesia Timur sangat kurang dalam pembudidayaannya, dikarenakan salah satunya adalah daerah-daerah tersebut sebagian besar adalah daerah tandus yang identik dengan daerah kering. Cabai merupakan tanaman hortikultura yang riskan terhadap air, dalam budidayanya cabai membutuhkan pengairan yang cukup, sehingga perlu adanya upaya penyediaan air pada musim kemarau atau tandus. Pada musim kemarau yang ekstrim, petani kadang kala sangat kebingungan dalam pembudidayaannya sehingga mereka sering kali lebih senang menggunakan tanaman lain selain cabe. Salah satu alternatif yang dapat diakukan adalah penggunaan bakteri yang tahan terhadap kondisi yang kering dalam kaitan ini adalah penggurangan penggunaan air, sehingga upaya pengembangan tanaman cabe besar pada daerah minim atau tandus dapat terealisasi.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan luas lahan kering kurang lebih 20%. Mengacu pada data statistik tahun 1990 dalam Harsono (2000) menyatakan bahwa luas lahan kering di Indonesia berjumlah 13.293.410 hektar yang terdiri dari tegal, kebun, ladang atau huma. Sumartono dalam Ikhwan (2000) menyatakan lahan kering yang ada di Indonesia kurang lebih 51 juta hektar yang tersebar diseluruh daerah terutama di Indonesia timur. Menurut Anonymous (2001) Indonesia memiliki lahan daratan seluas 200 juta hektar, 124 juta hektar berwujud lahan kering di mana 90 juta hektar merupakan tanah bermasalah. Sedangkan dari pusat data Deptan dilaporkan luas lahan kering di Jawa Timur pada tahun 1998 adalah 2.111.452 ha. Penggunaan Rhizobakteri tahan kekeringan dalam budidaya Pertanian berbasis lahan kering merupakan salah satu teknologi yang dapat dilakukan dalam memacu pertumbuhan dan meningkatkan produktifitas tanaman. Menurut Ikhwan,(2000) Rhizobakteri dalam menghadapi cekaman kekeringan atau cekaman osmotik akan menghasilkan metabolit tersebut yang kemungkinan juga dilepas ke rhizophere. Metabolik tersebut dapat berupa turunan senyawa karbohidarat atau asam amino dengan berat molekul rendah . Senyawa tersebut dapat diambil oleh akar tanaman melalui aliran massa (mass flow) ketika proses transpirasi. Didalam sel tanaman metabolit tersebut akan berfungsi sebagai osmoproktektan. Di harapkan dengan penggunaan Bakteri tahan kekeringan ini akan dapat mengembangkan usaha budidaya tanaman cabai terutama tanaman cabai besar dengan kondisi tanah yang tandus. Dan dengan penggunaan bakteri tersebut akan mampu memberikan nilai plus pada budidaya yang mengarah pada bioteknologi yang ramah lingkungan.
Yang perlu digaris bawahi adalah hasil samping dari bakteri disini adalah berupa zat-zat yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan metabolisme. Sebagai contoh, dalam penyusutan nitrat oleh bakteri denitrifikasikan, terlepasnya air, nitrit, dan energi. Energi diperlukan lagi oleh bakteri, air dibuang melulu jadi merupakan hasil ekskresi, sedangkan nitrit merupakan hasil samping (Dwidjoseputro, 1989). Dari sini dapat diketahui ternyata air yang dihasilkan dapat digunakan tanaman untuk perombakan bahan baku tanah yang nantinya pada Rhizobakteri tahan kekeringan ini akan menghasilkan zat-zat seperti, IAA yang berguna untuk peningkatan pertumbuhan akar tanaman, Osmoproktektan yang berfungsi sebagai penahan kekeringan artinya tanaman akan mempunyai daya tahan terhadap kondisi kering, kemudian hasil yang lain dari bakteri ini adalah dapat melakukan fiksasi N (penambatan nitrogen dari tanah atau dari udara).
Cabai atau lombok merupakan tanaman sayuran buah semusim, yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai sayuran rempah atau bumbu dapur. Konsumsi cabai pada tahun 1978 rata-rata nasional 1,04 kg per kapita per tahun atau ± 2,84 gram per kapita per hari tidak termasuk kebutuhan untuk industri, penggemar cabai terus melonjak dari tahun ke tahun (Sunaryo, 1992). Produktifitas tanaman cabe besar varietas lokal berkisar antara 0,1-0,3 kg/tanaman, sedangkan cabe besar hot beauty produksinya mencapai 1,6-2 kg/tanaman atau 85-94% lebih besar dibandingkan dengan cabe besar biasa (Anonymous, 1992). Daerah penanaman cabai di Indonesia tersebar di Pulau Jawa, seperti Jawa Timur (Gresik, Lamongan, Tuban, dan Malang), Jawa Tengah (Brebes, Semarang, Magelang, Rembang, dan DI Yogyakarta), dan Jawa Barat (Cianjur, Bandung, Serang, Bekasi, dan Bogor). Dikawasan diluar pulau Jawa, seperti, Sumatra, Kalimantan dan Wilayah Indonesia Timur sangat kurang dalam pembudidayaannya, dikarenakan salah satunya adalah daerah-daerah tersebut sebagian besar adalah daerah tandus yang identik dengan daerah kering. Cabai merupakan tanaman hortikultura yang riskan terhadap air, dalam budidayanya cabai membutuhkan pengairan yang cukup, sehingga perlu adanya upaya penyediaan air pada musim kemarau atau tandus. Pada musim kemarau yang ekstrim, petani kadang kala sangat kebingungan dalam pembudidayaannya sehingga mereka sering kali lebih senang menggunakan tanaman lain selain cabe. Salah satu alternatif yang dapat diakukan adalah penggunaan bakteri yang tahan terhadap kondisi yang kering dalam kaitan ini adalah penggurangan penggunaan air, sehingga upaya pengembangan tanaman cabe besar pada daerah minim atau tandus dapat terealisasi. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan luas lahan kering kurang lebih 20%. Mengacu pada data statistik tahun 1990 dalam Harsono (2000) menyatakan bahwa luas lahan kering di Indonesia berjumlah 13.293.410 hektar yang terdiri dari tegal, kebun, ladang atau huma. Sumartono dalam Ikhwan (2000) menyatakan lahan kering yang ada di Indonesia kurang lebih 51 juta hektar yang tersebar diseluruh daerah terutama di Indonesia timur. Menurut Anonymous (2001) Indonesia memiliki lahan daratan seluas 200 juta hektar, 124 juta hektar berwujud lahan kering di mana 90 juta hektar merupakan tanah bermasalah. Sedangkan dari pusat data Deptan dilaporkan luas lahan kering di Jawa Timur pada tahun 1998 adalah 2.111.452 ha.
Penggunaan Rhizobakteri tahan kekeringan dalam budidaya Pertanian berbasis lahan kering merupakan salah satu teknologi yang dapat dilakukan dalam memacu pertumbuhan dan meningkatkan produktifitas tanaman. Menurut Ikhwan,(2000) Rhizobakteri dalam menghadapi cekaman kekeringan atau cekaman osmotik akan menghasilkan metabolit tersebut yang kemungkinan juga dilepas ke rhizophere. Metabolik tersebut dapat berupa turunan senyawa karbohidarat atau asam amino dengan berat molekul rendah . Senyawa tersebut dapat diambil oleh akar tanaman melalui aliran massa (mass flow) ketika proses transpirasi. Didalam sel tanaman metabolit tersebut akan berfungsi sebagai osmoproktektan. Di harapkan dengan penggunaan Bakteri tahan kekeringan ini akan dapat mengembangkan usaha budidaya tanaman cabai terutama tanaman cabai besar dengan kondisi tanah yang tandus. Dan dengan penggunaan bakteri tersebut akan mampu memberikan nilai plus pada budidaya yang mengarah pada bioteknologi yang ramah lingkungan. Yang perlu digaris bawahi adalah hasil samping dari bakteri disini adalah berupa zat-zat yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan metabolisme. Sebagai contoh, dalam penyusutan nitrat oleh bakteri denitrifikasikan, terlepasnya air, nitrit, dan energi. Energi diperlukan lagi oleh bakteri, air dibuang melulu jadi merupakan hasil ekskresi, sedangkan nitrit merupakan hasil samping (Dwidjoseputro, 1989). Dari sini dapat diketahui ternyata air yang dihasilkan dapat digunakan tanaman untuk perombakan bahan baku tanah yang nantinya pada Rhizobakteri tahan kekeringan ini akan menghasilkan zat-zat seperti, IAA yang berguna untuk peningkatan pertumbuhan akar tanaman, Osmoproktektan yang berfungsi sebagai penahan kekeringan artinya tanaman akan mempunyai daya tahan terhadap kondisi kering, kemudian hasil yang lain dari bakteri ini adalah dapat melakukan fiksasi N (penambatan nitrogen dari tanah atau dari udara).
Cabai
Untuk kegunaan lain dari Cabai, lihat Cabai (disambiguasi).
Cabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok" kesepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.

Cabai Merah
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Tanaman cabe cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air ; pH tanah yang ideal sekitar 5 - 6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret - April). Untuk memperoleh harga cabe yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun ada resiko kegagalan. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit . Buah cabe yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya: Untuk areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabe (300-500 gr biji).
B.       Cara Bertanam Lombok

Keluaran
- Varietas cabai berproduksi tinggi
Bahan dan Alat Bahan :
- BPH 900602
- BPH 900603
- BPH 900608
- BPH 900613
- BPH 900614
- Varietas Lokal
- Pupuk Kandang 30 ton
- Pupuk buatan :
Urea 150 kg/ha, ZA 360 kg/ha, Kcl 150 kg/ha, TSP 200 kg/ha
Peralatan :
Cangkul dan garpu
Pedoman Teknis :
1.  Benih Benih Cabai diambil dari buah-buah pohon cabai pilihan, yaitu dari tanaman yang seragam
tumbuhnya, baik dan sehat. Kebutuhan benih kurang lebih 500 gr/ha.
2.  Persiapan Lahan Tanah yang baik untuk Pertanaman cabai yaitu berstruktur remah atau gembur, subur dan kaya akan bahan organik, pH tanah antara 6.0 dan 7.0.
3.  Pengolahan Tanah
-    Cara bertanam Cabai tergantung kepada ketinggian tempat, jenis tanah serta jenis dan
varietas cabai itu sendiri.
-    Sistem penanaman pada tanah bertekstur sedang sampai ringan, lebih cocok dengan barisan tunggal (sistem ini biasa dilakukan petani di dataran tinggi sampai medium)
-    Untuk tanah bertekstur liat dilakukan dengan sistem bedengan, beberapa baris tanaman pada tiap bedengan, lebih efisien ditinjau dari segi pengolahan.
-    Tanah yang akan ditanami dicangkul, kemudian diratakan dan dibersihkan dari rumput-rumput pengganggu.
-    Selanjutnya buat lubang pertanaman dengan jarak (60-70 cm) x 50 cm untuk sistem
barisan tunggal dan (40-50 cm) x (30-40 cm) untuk sistem bedengan.
4. Pemberian pupuk
- Gunakan pupuk kandang yang sudah matang
- Tiap lubang tanaman diberi pupuk kandang sebanyak 20 -30 ton (pupuk kandang sapi)
-    Pemberian pupuk Urea dan KCl dilakukan 3 kali masing-masing sepertiga dosis I pada waktu tanam II pada umur satu bulan setelah tanam III pada umur dua bulan setelah tanam
5. Tanam dan Pemeliharaan
- Dalam pemeliharaan tanaman yang perlu dilakukan adalah penggemburan tanah dan pengendalian gulma, hama dan penyakit serta pengairan bilamana diperlukan terutama pada musim kemarau.
- Penggemburan tanah atau pendangiran dilakukan bersama-sama pada waktu pemupukan kedua atau pemupukan susulan.
- Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan secara teratur dengan pemberian pestisida, dosis pestisida dan interval pemberian sesuai dengan anjuran.
6.  Panen Tanaman cabai besar yang ditanam di dataran rendah dapat dipanen 60-80 hari setelah tanam. Sedangkan umur panen cabai di dataran tinggi biasanya lebih lambat yaitu mulai umur 4 bulan setelah tanam. Interval panen dapat dilakukan 3 - 7 hari sekali.
Lombok atau cabe telah lama dikenal sebagai salah satu bumbu penyedap masakan, namun mungkin belum banyak yang tahu bahwa komoditi yang satu ini ternyata memiliki fungsi lain yang tak kalah penting bagi kesehatan tubuh bila kita mengkonsumsinya. Lombok atau cabe ternyata bisa bermanfaat sebagai bahan ramuan obat tradisional. Lombok kecil atau cabe rawit misalnya, tanaman yang dikenal dengan nama latin Capsicum frutescens ini ternyata mengandung vitamin A yang dapat mencegah penyakit kebutaan, selain fungsinya menyembuhkan sakit tenggorokan atau radang tenggorokan.
Daun tanaman lombok ternyata juga ampuh untuk mengobati luka lecet atau luka luar pada bagian tubuh kita. Daun tanaman lombok yang dihancurkan dan kemudian dibalurkan pada bagian luka akan mempercepat penyembuhan dan penutupan serta keringnya luka. Jenis lombok yang lain seperti lombok atau cabe keriting yang termasuk jenis lombok besar (Capsicum annum var. longum) kaya akan vitamin C yang bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam industri makanan, obat-obatan. Cabe keriting juga mengandung semacam minyak atsiri (capsicol) yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi penyakit pegal-pegal, gatal-gatal dan bisa juga dimanfaatkan sebagai obat penenang. Kandungan bioflavonoids yang terdapat dalam cabe keriting bahkan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit polio serta menyembuhkan peradangan akibat udara dingin. Ternyata banyak juga manfaat dari tanaman Lombok yang banyak terdapat di sekitar kita, terutama bagi penyembuhan penyakit atau gangguan kesehatan.



D.   Penelitian Tanaman Lombok
Pengaruh Hormon terhadap Pertumbuhan Tanaman Lombok
v Tujuan  :   Mengetahui pengaruh hormon terhadap pertambahan tinggi tanaman Lombok.

v Alat dan Bahan  :
1.    Bibit Lombok
2.    Hormon Dekamon 22,43 L
3.    Tanah Kebun
4.    Air
5.    Pot 4 buah.

v Langkah Kerja   :
a.    Sediakan 4 buah pot, tanah beserta hormon
b.    Sediakan bibit Lombok yang akan ditanam
c.    Sediakan botol semprot untuk tempat menyimpan hormon
d.   Takaran hormon yang digunakan adalah dengan konsentrasi 2-2,5 mL/10 L air pada 1 botol semprot, jika 1 botol itu telah habis sebelum penelitian sampai pada hari ke-28 maka tambahkan 1 botol semprot lagi untuk digunakan kembali sampai pada hari ke-28. Ulangi langkah tersebut hingga penelitian sampai pada hari ke-28
e.    Masukkan tanah ke dalam pot yang telah tersedia
f.     Adapun masing-masing pot tersebut adalah pot 1, pot 2, pot 3, dan pot 4
g.    Ke dalam tiap-tiap pot, masukkan pula bibit Lombok yang ada
h.    Kemudian setelah itu, masukkan kembali tanah ke dalam pot tersebut. Langkah terakhir, siram tiap pot-pot tersebut
i.      Hari pertama penanaman terhitung dimulai pada tanggal 13 Agustus 2009
j.      Hari pertama pemberian hormon terhitung sejak 1 minggu setelah penanaman, yakni tepatnya pada tanggal 20 Agustus 2009
k.    Hormon diberikan tiap 5 hari sekali. Pemberian hormon dimulai dari hari pertama hari ke-28. Adapun pada penelitiannya, pemberian terhitung sebanyak 7 kali
l.      Semprotkan hormon yang telah ditakar ke dalam pot 1, pot2, dan pot 3. Adapun perbedaan penyemprotannya adalah pada pot 1 sebanyak 2 kali semprot, pot 2 sebanyak 4 kali semprot, dan pada pot 3 sebanyak 6 kali semprot
m.  Setelah penyemprotan, siram tiap-tiap pot tersebut
n.    Kemudian, selama penelitian dilakukan; hasil penelitian terhitung sebanyak 10 hari
o.    Hari pertama hasil penelitian terhitung sejak 1 hari setelah pemberian hormon, yakni pada tanggal 21 Agustus 2009


p.    Tulis hasil penelitian ke dalam tabel hasil pengamatanmu :
POT
Hari ke - (cm)
1
4
7
10
13
16
19
22
25
28
1
2,1
3,0
4,1
6,1
7,1
8,0
8,8
9,0
9,5
10
2
1,9
2,8
3,9
5,7
6,7
7,6
7,9
8,7
9,2
9,6
3
1,8
2,9
3,8
5,6
6,6
7,5
7,7
8,9
9,0
9,2
4
1,5
2,0
3,6
5,0
6,5
7,0
7,5
8,3
8,5
9,0

q.    Amati pertambahan tinggi tanaman tersebut tiap 3 hari sekali selama penelitian dilakukan
r.     Lakukan pengamatanmu berulang-ulang agar hasil penelitianmu tersusun secara sistematis
s.     Penelitian berakhir pada hari ke-30 dan hari ke-7 pemberian hormon, yakni pada tanggal 19 September 2009.

v Jenis-Jenis Variabel  :
Ø Variabel Terikat   :  mengetahui pengaruh hormon terhadap pertambahan tinggi tanaman Lombok.
Ø Variabel Bebas    :  hormon yang mempengaruhi pertambahan tinggi tanaman Lombok.
Ø Variabel Kontrol :  tanaman yang tidak diberi hormon (pot 4).

v Kesimpulan  :
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, kelompok kami jadi dapat mengetahui bahwa ternyata hormon dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman Lombok, yakni tepatnya pada pertambahan tinggi tanaman tersebut. Tetapi, hormon tersebut itu pula hanya berpengaruh pada pertambahan tingginya saja dan tidak pada kesuburan tanamannya. Oleh karena itu, kami dapat berkesimpulan bahwa pada faktor hormon, hormon tidak selamanya merupakan faktor yang terbaik untuk suatu tanaman karena bisa jadi hormon itu hanya berpengaruh pada 1 bagian seperti halnya hanya pada pertambahan tingginya saja. Dan belum tentu pula, faktor yang lainnya adalah faktor yang kurang baik untuk tanaman tersebut. Terbukti pada penelitian yang kami lakukan ini, hormon yang kami berikan terhadap tanaman Lombok ternyata hanya memberikan pengaruh yang berupa pertambahan tinggi pada tanaman tersebut. Dan pada tanaman Lombok yang tidak diberikan hormon melainkan hanya diberikan air saja, juga memberikan pengaruh, tetapi hanya berupa kesuburan dan tidak berupa pertambahan pada tingginya.



E.   Penerapan Tanaman Lombok dalam Kehidupan Sehari-hari
Tanaman Lombok Terserang Patek
SANDEN (KR) - Tanaman lombok di sejumlah wilayah Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, terserang patek dan keriting daun. Hal itu menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut tak maksimal, bahkan para petani khawatir akan menyebabkan gagal panen. Kekhawatiran itu muncul di saat tanaman lombok sekarang ini sudah mulai berbuah, sehingga ada petani yang terpaksa memetik meski kondisi lombok masih muda. Sebaliknya, pertumbuhan tanaman lombok di wilayah Desa Srigading (Sanden) dan Tirtoargo (Kretek) cukup bagus dan tak ada gangguan hama apapun. Menurut Japon, salah seorang tokoh tani di Sanden ketika dihubungi KR, Selasa (26/5) kemarin, di sejumlah wilayah tanaman lombok terserang keriting daun dan patek. Banyak hama mirip ulat berwarna putih dan lembut (petani menyebutnya ulat trip -red), yang menyerang daun dan tanaman lombok. "Terutama di sekitar Gejlig Pitu dan sekitarnya, sebagian besar tanaman terserang hama tersebut," katanya. Padahal menurutnya saat ini menjelang masa petik, sehingga diperkirakan produksi lombok di wilayah itu tak akan maksimal. Bahkan Japon memprediksikan lebih dari 50 persen tanaman lombok akan gagal panen, mengingat patek dan keriting daun merupakan hama yang cukup serius. Japon menambahkan, penyebab dari keriting daun dan patek tersebut diperkirakan karena cuaca yang tak menentu, kadang panas dan hujan. "Para petani sudah mencoba untuk mengatasi hama itu dengan memberikan semprotan insektisida. Namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Jika nantinya tak ada harapan, maka kemungkinan besar para petani akan merombak tanaman tersebut," tambahnya.
Sementara itu salah seorang tokoh petani lainnya di Srigading Sanden, Suroto yang dihubungi terpisah menyatakan, bahwa kemungkinan munculnya patek dan keriting daun yang menyerang tanaman lombok, karena petani memang agak lengah. Sebab, tanaman lombok membutuhkan perhatian khusus dan petani dituntut untuk jeli mengamati kondisi tanaman setiap hari. "Sebenarnya gejala keriting daun dan patek dapat dideteksi lebih dini dan dapat diatasi sejak awal. Sebagai contoh, di wilayah Srigading Sanden dan Tirtoargo, pertumbuhan tanaman lombok cukup bagus. Bahkan dimungkinkan produksinya akan tinggi," katanya. Namun demikian Suroto mengakui jika dalam situasi cuaca yang tak menentu memang tanaman lebih rawan terkena hama. Untuk itu, menurutnya petani dituntut untuk lebih cermat dan greteh dalam menjaga tanaman lombok yang sekitar sebulan lagi akan panen. Sebagaimana diketahui, selain bawang merah, lombok menjadi tanaman andalan petani di wilayah Sanden dan sebagian Kretek. Lombok ini merupakan tanaman tumpang gilir dengan bawang merah, yang sebulan silam sudah usai dipanen.




BAB III
PENUTUP

Demikianlah penyusunan makalah yang telah kami buat, kami berharap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak dapat meningkatkan kualitas makalah ini. Terima kasih kami sampaikan kepada guru yang telah membantu kami dalam meningkatkan kualitas makalah ini, dan tak lupa pula kami panjatkan syukur kepada Allah SWT karena atas rahmat dan kehadiratnyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar